Kamis, 11 Oktober 2007

12 Responses to “Nashihat untuk Organisasi Muhammadiyah (Penetapan Lebaran)”

  1. >>>Hanya Allah Yg maha tahu…dasar rujukan apa yg dipakai oleh muhammadiyah atau oleh anda

    >>>saya seorang muslim yang awam tapi berusaha menjadi seorang muslim yang kaffah,saya tidak mempelajari islam sampai ke saudi arabia seperti anda tapi saya berusaha menjalankan islam sesuai dengan alquran dan sunnah(tentu saja yang shahih)
    yang saya tahu agama islam tidak berpikir kerdil dan mengikuti kemajuan jaman

    kalau memang pada jaman rasullullah br bisa melihat bulan dengan mata telanjang apa iya jaman sekarang dimana ada teropong bintang yang bisa membantu kita melihat dengan jelas posisi bulan tidak dipergunakan dan berskeras menggunakan mata telanjang???

    >>>beliau adalah seorang yang ummi tidak bisa membaca tapi beliau menyuruh umatnya untuk menuntut ilmu sampai ke negri china(tandanya beliau menghargai ilmu pengetahuan)

    >>>setahu saya bila saudi ber idhul fitri maka di indonesia yang berada dibelahan timur juga merayakannya,bukan ditunda seperti yang dulu2 dilakukan oleh pemerintah indonesia,dan apabila ada yang sudah merayakan hari raya maka haram hukumnya untuk berpuasa ramadhan.bukankah sumber agama islam itu adalah alquran,assunah dan ijtihad ulama (bukan pemerintah)

    >>>Selamat Idhul Fitri, Mohon Maaf lahir batin

    Wallahu a’lam, hadits menuntut ilmu sampai ke negeri Cina itu dlo’if. Lihat pembahasan lengkapnya disini
    Bukannya kebalik mas, semakin barat Hilal-nya semakin wujud……???
    Tentang Lebaran Bersama Pemerintah akan datang artikel-nya, lihat disini

  2. Assalamu’alaikum

    Barakallahu fiyka

  3. Hmmm… kiranya apa ada 2 idul fitri lagi ya…??
    Klo saya lebih condong ke pemerintah bilang apa…

  4. “Pembaca yang budiman, mari kita bandingkan pernyataan ini dengan keterangan [hadits] dan penjelasan berikut : ………”

    Dalam pandangan kami, kurang adil membandingkan hasil wawancara untuk publik (yang tidak dilengkapi dengan hujjah “ilmiah”) dengan hadits dan penjelasan Anda yang “ilmiah” itu. Yang lebih adil adalah membandingkannya dengan hujjah Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah yang juga “ilmiah”.

    Lihat, antara lain,
    http://media.isnet.org/isnet/Djamal/konsepsi.html dan
    http://www.eramuslim.com/berita/nas/7111130206-muhammadiyah-dan-qaradhawi-sepakat-dengan-penentuan-metode-hisab.htm?rel

  5. Sesungguhnya keberagaman adalah rahmat…karena kedua2xnya mempunyai dalil yang kuat….wallahu’alam….

  6. dalam kasus yang lain, saya ambil contoh begini:
    untuk menentukan waktu sholat, apakah kita harus melihat dahulu pergerakan matahari?
    terus juga, mengapa kita sudah bisa menentukan waktu sholat untuk satu tahun ke depan?

  7. Terimalah nasehat yang menggunakan dasar hadist yang kuat ini. Kenapa takut?

  8. […] http://mumtazanas.wordpress.com/2007/10/09/nashihat-untuk-organisasi-muhammadiyah-penetapan-lebaran/ […]

  9. Kalimat ini kurang sempurna

    Sesungguhnya keberagaman adalah rahmat

    Yang lebih baik barangkali “Di dalam keberagaman itu ada rahmat, sedangkan di dalam keseragaman itu lebih nikmat
    Artinya kita harus tetap lebih menghargai dan mengarah ke-keseragaman. Jangan hanya menghibur diri ketika masih beragam dengan adanya hikmah.

  10. buat rovicky, koq standar ganda gitu yah? hehe.. tp gpp itu pendapat Anda, sy hargai, kalo saya sendiri lebih suka komentarnya zozon… islam kan “plural”, jgnkan d Arab, di Indonesia apalagi… saya berada di lingkugan muhammadiyah, meskipun msh awam masalah ini, tp logika penetapan 1 syawal versi muhammadiyah bisa diterima, kalopun ada perbedaan dgn yg lain, so what? sma2 ada hadistnya.. kenapa mesti takut berbeda? dari dulu org Indonesia juga terdiri dari ratusan suku & budaya tapi kita ttp hidup dalam perbedaan itu, pelangi kalau cuma berwarna merah tidak akan seindah pelangi yg warna-warni, masakan yg anda makan kalau cuma nasi juga akan hambar kalau tidak diberi bumbu & sayur yg beda-beda, gimana? (hehe… udah bayangin ketupat & opor ayam nih besok jumat :) wasalam… Minal Aidin wal Faidzin, Maaf Lahir Bathin

  11. menurut saya yang membedakan adalah antara wujudul hilal dan rukyatul hilal. kalau orang Muhammaddiyh beranggapan pokoknya bulan itu tampak maka sudah hari raya. sedangkan pemerintah mempunyai pendapat sebelum hilal itu sampai 3 derajat di atas ufuk maka belum hari raya. jadi perbedaanya cuma derajatnya saja

  12. ….. :)

  13. Saya lahir dari keluarga Muhammadiyah dan besar di lingkungan NU, namun sejauh saya hidup di lingkungan saya masing2 baik Muhammadiyah dan NU saling menghargai metode yang dipakai. Dan yg lebih salute tdk ada statement “pembenaran diri” baik yg Muhammadiyah maupun yg NU. Semuanya harmonis dan menghargai perbedaan. Sama hal-nya dgn rakaat sholat tarawih antara Muhammadiyah dan NU, tidak ada permasalahan, masing2 saling menghargai. Para ulama dikampung saya baik yang NU maupun Muhammadiyah lebih tertarik berdiskusi, berjibaku dan berdebat masalah2 sosial seperti: kemiskinan, pengangguran, pemberdayaan UKM, korupsi daripada memper-debatkan masalah perbedaan hari raya, gimana hukumnya orang berpuasa yg menggosok gigi.

    Dan postingan ini menambah deretan jumlah orang2 yg merasa “suci”, merasa lebih dekat dgn Allah SWT, menganggap dirinya paling benar apalagi judul diatas sangat provokatif. Muhammadiyah adl organisasi yg telah berumur hampir satu abad, berdiri tahun 1912, organisasi terbesar ke-2 setelah NU, jadi tentunya mereka telah mempertimbangkan semuanya.

1 komentar:

anas mengatakan...

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh,

Ternyata ada yg memposting komentar2 di blog saya :)

Kalau boleh tahu pengelola blog ini siapa ya?