Kamis, 11 Oktober 2007

14 Responses to “Mengapa Salafy?”


  1. Saya salut dan saya setuju,
    tapi klo tidak bermanhaj salaf (kasarnya, menjadi orang salafy) tidak apa -apa kan?

    Itu sebuah pilihan, manhaj adl sebuah metode dlm mendalami Islam, kita mau bermanhaj salafy (sahabat rosululloh), bermanhaj ikhwany (IM), takfiri (Jamaah Islamiyah), mu’tazili (JIL), atau manhaj bikinan kita sendiri. Itu pilihan kita dan kita bertanggung jawab atasnya

  2. Assalamu’alaikum,

    Saya tertarik pada point dibawah ini :

    Mengikuti selain manhaj salaf berarti menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang berakibat akan diberi keleluasaan untuk bergelimang di dalam kesesatan dan tempat kembalinya adalah Jahannam.

    Bagaimana ulama-ulama kita yang terdahulu & yang sekarang ini yang tidak ber-Manhaj Salaf ?
    apakah mereka termasuk pada golongan yang masuk neraka / bukan ya ?

    Wa’alaikumussalam,

    Termasuk aqidah ahlussunnah wal jamaah dalam menetapkan si A (secara khusus) masuk neraka atau tidak itu adalah rahasia Allah.
    Coba perhatikan kata2 pertama:
    “Mengikuti selain manhaj salaf berarti menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam”
    Lalu bagaimanakah kondisi orang2 yg menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?

  3. Maksudnya yang menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mengikuti selain manhaj salaf ???

    Iya benar, karena Allah menyebutkan dalam AlQuran: “Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam,, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisa’: 115)

    Al Imam Ibnu Abi Jamrah Al Andalusi berkata: “Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan generasi pertama dari umat ini, karena mereka merupakan orang-orang yang menyambut syariat ini dengan jiwa yang bersih.

    Juga didukung oleh hadits Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “…. Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya: ‘Siapa dia wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: (golongan) yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada.” (Hasan, riwayat At Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Iman, Bab Iftiraqu Hadzihil Ummah, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash).

  4. Terima kasih atas penjelasannya, Jadi kalau kita menjalankan sunah-sunah Rasul dan para sahabatnya tapi tidak bermanhaj salafy bisa juga kan ?

    Menjalankan sunnah Rasul dan para sahabatnya = itulah manhaj salafy. Istilah salafy digunakan/populer ketika mulai banyak manhaj/kelompok yg mengatasnamakan ahlussunnah berdasarkan pemahaman pendiri-nya/kelompok-nya. Istilah ahlussunnah juga dipakai ketika muncul fitnah syiah (kelompok yg paling tua menyimpang, mereka membenci para sahabat semisal Abu Hurairah, ‘Amr bin ‘Ash, Muawiyyah yg mereka juluki sbg iblis). Istilah2 ini muncul mmg sesuai dg kondisi-nya, semacam ikhwani=pengikut Ikhwanul Muslimin, Takfiri=yg mengkafirkan golongan lain, tablighi=pengikut jamaah tabligh, salafy=pengikut manhaj salaf/sahabat.
    Nah skr kita sbg org yg jauh dari Rasul tentunya butuh sebuah standard dlm rangka menjadi pengikut Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, menjadi ahlussunnah, syiah, atau yg lainnya. Atau karena kesombongan diri sendiri membuat manhaj ‘menurut aku’. Penyakit ummat diantara syahwat dan syubhat. Syahwat krn sifat kemanusiannya yg melebihi sifat kehambaannya. Syubhat krn kebodohannya. Penamaan itu bukan sekadar simbol loh mas tapi pencerminan apa yg dilakukan, bisa saja dia mengaku salafy (misal: Abu Salafy) tapi yg dilakukan mencemooh sahabat, ulama besar semisal Imam Bukhori, para ‘Ulama maka dia bukan salafy, bisa juga dia tdk menyebutkan siapa dirinya tapi dia mencocoki Rasul dan mengikuti manhaj para sahabat Rasulullah maka dia adalah al-jama’ah (sbgmn disebutkan dlm sebuah hadits)

  5. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Ana hanya ingin menunaikan kewajiban untuk menyampaikan.
    Menjalankan sunnah Rasul dan para sahabatnya adalah kewajiban sebagai muslim, namun
    menyebut diri sebagai “salafy” adalah bid’ah. Sebagaimana menyebut diri sebagai ikhwani, tablighi, dsb.
    Rasulullah.
    Al Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al Atsari adalah ulama yang tawadhu dan tidak diragukan ketaqwaannya, namun tidak ada manusia yang sempurna sebagaimana Rasulullah saw.
    Tidak ada satupun dalil-dalil baik hadits maupun para sahabat yang memerintahkan umat Islam untuk menyebut diri mereka salafy atau salafiyun.

    Selain itu, dikhawatirkan akan muncul kelompok baru yang merasa sudah menjalankan sunnah rasul dan para sahabat secara kaffah. Sedangkan kelompok lain dianggap belum sempurna.

    Contoh, banyak anggota IM yang melakukan perbuatan bid’ah, namun tidak sedikit juga yang konsisten terhadap apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, serta para salafus saleh. Perbedaannya adalah mereka berdakwah melalui “harakah” yang terorganisir. Inilah yang membuat mereka terjebak pada kelompok2.
    Jika seseorang yang konsisten terhadap apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, serta para salafus saleh kemudian menyebut dirinya sebagai salafy, maka apa bedanya dengan orang yang menyebut sebagai IM?
    Tidak sedikit saudara-saudara kita yang saling akrab karena sama-sama menyebut diri mereka “salafy” dan kemudian memandang sebelah mata kepada kelompok lain. Diakui atau tidak ini adalah resiko dari “Nisbat” tersebut.
    Karena itu saudaraku..mari teliti kembali terhadap apa yang kita terima yang tidak jelas dalil-dalilnya, cukuplah kita sebagai Jamaah kaum muslimin, yang bersandar pada manhaj ahlus sunnah wal jama’ah (bukan berarti menyebut “salafy”)
    Demi Allah, sudah cukup banyak fitnah melanda kaum muslimin,
    Semoga Allah menunjuki kita ke jalan-Nya yang lurus
    barakallahu fik.
    wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ade
    adebiasa@yahoo.com

    Wa’alaikumussalam Warohmatullohi Wabarokatuh,
    Sebelumnya ada koreksi nih, Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al Atsari hanya ustadz bukan ulama.
    Jika boleh saya mengambil kesimpulan, inti pertanyaannya anda adl ttg “penamaan Salafy”.
    Memang tdk ada hadits maupun ayat yg memerintahkan kita utk menamai diri dengan Salafy, Sunni (Ahlussunah), Ikhwani, Tablighi, Syi’i, atau yang lainnya. Cukup hanya mengatakan saya seorang Muslim.
    Adapun munculnya istilah ahlussunnah terjadi ketika mulai terjadi perselisihan diantara kaum muslimin, munculnya Syiah dan Khawarij. Silahkan lihat di: wikipedia tentang sunni atau yg wikipedia ini (sunni menurut salafy)

    Nah sekarang dilihat apa tujuan kita menamai diri kita sbg seorang Muslim, Sunni, Salafy, IM, Jamaah Tabligh, dan lain-lainnya?
    Tdk lain adalah untuk membedakan diri kita dari yg lain. Ketika berkata “Saya seorang Muslim” di sebuah komunitas yg didalamnya ada agama lain adl sesuatu yg relevan untuk membedakan kita bukan pengikut kristen atau budha. Tapi ketika di sebuah komunitas yg terdiri dari org muslim semua maka tdk relevan lagi ketika kita menyebut diri kita Muslim. Demikian juga ketika kita berkata “Saya Salafy” untuk membedakan bahwa kita bukan IM, Jamaah Tabligh, atau yg lain.
    Jadi kesimpulannya penamaan ini hanya sekedar utk membedakan, saya bukan IM, Syiah, Jamaah Tabligh, atau yg lain.
    Analogi sederhana: “Pesan apa? teh, susu, putih, atau kopi? Kemudian kita jawab pesan air” ini jawaban yg kurang tepat tapi kita harus jawab secara lengkap “pesan air putih”

    Apakah sama antara menamakan diri dg IM, Salafy, atau yg lain?
    Ketika berkata “Saya anggota IM” maka yg dimaukan dengannya adl memahami Islam dg pemahaman Ikhwanul Muslimin.
    Ketika berkata “Saya salafy” maka yg dimaukan dengannya adl memahami Islam dg pemahaman para sahabat Rasulullah.
    Nama IM berujung kpd Hasan Al Banna sbg pendirinya sedangkan nama Salafy berujung kpd siapa? tentunya Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam.
    Nama Salafy dan Ahlussunnah terdapat pada hadits, apakah nama IM terdapat dlm hadits juga?

  6. Afwan, pada komentar saya sebelumnya
    ada kata yang salah pada bagian:
    …..ikhwani, tablighi, dsb.
    Rasulullah.
    Al Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al Atsari …..
    Kata “Rasulullah” pada baris tersebut belum sempat terhapus, mohon diabaikan.
    Oya, kalau antum tidak berkenan menampilkannya pada kolom komentar, tidak apa-apa.
    Namun ana berharap ada alasan yang bisa antum sampaikan ke alamat email ana. Siapa tahu ana yang khilaf.
    Syukron
    wassalam

  7. Assalamu’alaikum,

    Terima kasih Pak Ustadz Ade. Saya setuju sekali dengan penjelasan antum bahwa kita sebagai Jama’ah kaum muslimin yang bersandar pada manhaj ahlus sunnah wal jama’ah (bukan berarti menyebut “salafy”).

    Wassalam,

    @Pakde Geng
    Kenapa tdk menyebut hanya “Muslim”. Ada tambahan ahlussunnah wal jama’ah berarti orang Syiah tdk termasuk dong?

  8. Memang sebutan “Muslim” itu yang lebih tepat, dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana membentuk suasana agama hidup dalam diri kita, keluarga dan orang-orang disekitar kita sehingga Insya Allah hidayah akan Allah turunkan keseluruh Alam.

    Setuju pakde, penamaan hanya simbolis, yg penting prakteknya. Sudah sejauh mana kita mengamalkan sunnah Rasulullah?

  9. assalamualaikum,,
    saya ingin bertanya, apakah semua sahabat itu dijamin mampu melanjutkan ajaran dari Rasulullah.?
    yang kedua, kenapa ada perbedaan antara sahabat yang satu dengan sahabat yang lainnya, padahal sumbernya satu yaitu Rasulullah?..
    yang ketiga, apa sih definisi sahabat itu?

    Sesuai AlQuran kita disuruh mengambil manhaj mereka, sesuai hadits mereka adl generasi terbaik.
    Perbedaan? Tiap manusia punya penafsiran masing2. Lalu bagaimana mrk menghadapi perbedaan? Dg ilmu tentunya.
    Sahabat?
    Kata Ibnu Katsir : “Shahabat adalah orang Islam yang bertemu dengan
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun waktu bertemu dengan
    beliau tidak lama dan tidak meriwayatkan satu hadits pun dari beliau”.

    Kata Ibnu Katsir :” Ini pendapat Jumhur Ulama Salaf dan Khalaf (=Ulama
    terdahulu dan belakangan)”. [3]

    Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani melengkapi definisi Ibnu Katsir, ia
    Berkata :”Definisi yang paling shahih tentang Shahabat yang telah aku teliti
    ialah : “Orang yang berjumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam
    keadaan beriman dan wafat dalam keadaan Islam”. Masuk dalam difinisi ini
    ialah orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik lama
    atau sebentar, baik meriwayatkan hadits dari beliau atau tidak, baik ikut
    berperang bersama beliau atau tidak. Demikian juga orang yang pernah melihat
    beliau sekalipun tidak duduk dalam majelis beliau, atau orang yang tidak
    pernah melihat beliau karena buta. Masuk dalam definisi ini orang yang
    beriman lalu murtad kemudian kembali lagi kedalam Islam dan wafat dalam
    keadaan Islam seperti Asy’ats bin Qais.

    Kemudian yang tidak termasuk dari definisi shahabat ialah :

    [a]. Orang yang bertemu beliau dalam keadaan kafir meskipun dia masuk Islam
    sesudah itu (yakni sesudah wafat beliau).
    [b]. Orang yang beriman kepada Nabi Isa dari ahli kitab sebelum diutus Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setelah diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi
    wa sallam dia tidak beriman kepada beliau.
    [c]. Orang yang beriman kepada beliau kemudian murtad dan wafat dalam
    keadaan murtad. Wal’iyaadzu billah. [4]

    Keluar pula dari definisi shahabat ialah orang-orang munafik meskipun mereka
    bergaul dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah dan Rasul-Nya
    mencela orang-orang munafik, dan nifaq lawan dari iman, dan Allah memasukkan
    orang munafik tergolong orang-orang yang sesat kafir dan ahli neraka [Lihat
    : Al-Qur’an surat An-Nisaa : 137,138,141,142,143,145. Juga surat Ali Imran :
    8 - 20].

  10. Sesuai AlQuran kita disuruh mengambil manhaj mereka, sesuai hadits mereka adl generasi terbaik.
    Perbedaan? Tiap manusia punya penafsiran masing2. Lalu bagaimana mrk menghadapi perbedaan? Dg ilmu tentunya.

    ==> Para Sahabat dalam menghadapi perbedaan dengan ilmu tentunya, lalu bagiamana dengan kita ? kaum akhir zaman yang banyak sekali perbedaan-perbedaan ini, tidak cukup dengan ilmu saja. Yang lebih utama adalah bagaimana kita memiliki akhlak dan amalan seperti yang dimiliki oleh para sahabat r.a

    Tapi pada prakteknya mereka mengedepankan golongan/kelompok, taklid buta. Kata2 yg sering terlontar: “Kami juga punya ulama”, “Ini juga ada haditsnya”, dll. Seharusnya mereka mau utk terbuka, diskusi ilmiah. Bagaimana kita tahu amalan dan akhlak para sahabat? Dengan ilmu tentunya.

  11. Saya setuju dengan ilmu kita dapat mengetahui amalan dan akhlak para sahabat r.a, tapi tidak cukup hanya untuk diketahui saja atau mengadakan diskusi ilmiah saja. Amalkan yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari, Amalkan dalam kehidupan sehari-hari kita, dakwahkan kepada orang-orang disekitar kita dimanapun kita berada sehingga suasana agama kembali tumbuh seperti zaman Rasulullah S.A.W dan para sahabat r.a.

    Setuju, ilmu tanpa amal adl seperti pohon tanpa buah.

  12. kapan seseorang dikatakan salafy? saya merasa sudah mengikuti sunnah Rasulullah? berarti saya salafi dong

    Bisa

  13. Sebaiknya kita jangan cuma “merasa” sudah mengikuti sunnah. Tapi harus yakin dan mempelajari sunnah dengan mengikuti sahabat. Karena merekalah yang melihat langsung bagaimana kehidupan Nabi Shallallohu’alaihi wasallam, mendapat didikan langsung dari beliau dan mereka pula yang paling bersemangat dalam menerapkan sunnah. Jadi bukan karena merasa telah mengikuti Al-Quran dan Hadits saja. Bukankah mereka yang menyebut diri mereka IM, Jamaah Tabligh, Islam Jamaah, LDII bahkan syiah juga mengklaim bahwa mereka telah mengikuti Al-Quran dan Hadits. Tapi pertanyaannya: Al-Quran dan Hadits berdasarkan penafsiran siapa??

    Sungguh menyandang predikat sebagai seorang salafy atau pengikut salaf bukan perkara yang ringan. Karena sering kali masyarakat menjadi salah paham terhadap manhaj ini karena beberapa orang yang baru belajar ilmu agama dan telah mengaku sebagai salafy kemudian melakukan tindakan sembrono dalam membidahkan, memvonis bahkan mengkafirkan orang-orang yang sebenarnya masih awam atau belum memahami dan mengamalkan Islam secara benar. Padahal mengikuti manhaj salaf dan menjadi seorang salafy berarti juga harus mengikuti manhaj mereka dalam bermuamalah dan berdakwah.

    Syaikh Bakar Abu Zaid berkata :
    ‘Apabila dikatakan As-Salaf atau As-Salafiyun atau As-Salafiyah, ini menisbatkan kepada Salaf As-Shalih, yakni seluruh sahabat Radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan tanpa condong kepada hawa nafsunya…
    Dan orang-orang yang tetap diatas manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka dinisbatkan kepada Salaf Ash-Shalih. Kepada mereka dikatakan As-Salaf, As-Salafiyun. Yang menisbatkan kepada mereka dinamakan Salafi, dan itu wajib baginya. Karena sesungguhnya lafazh Salaf adalah Salafu Ash-Shalih. Lafazh ini secara mutlak, yakni setiap orang yang berteladan kepada sahabat Radhiyallahu ‘anhum.
    Walaupun dia hidup pada zaman kita ini, harus seperti ini, inilah kalimat ahlu ilmi, Itulah penisbatan dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Bukan merupakan formalitas dan tidak terpisah sedikitpun dari generasi yang pertama, bahkan itu penisbatan dari mereka dan kembali kepada mereka.
    Sedangkan orang yang menyelisihi As-Salaf, hanya berdasarkan nama atau formalitas belaka, maka jangan. Walaupun mereka hidup sezaman dengan para Salafu Al-Ummah dan setelah mereka’. [Hukmu Al-Intima hal. 36]

    Jazakallohu khoiron atas tambahannya

  14. @ syarif
    saya menggunakan kata “merasa” karena memang hal ini sangat subyektif. Apakah Anda juga sekadar “merasa”, atau memang ada ukuran objektif sehingga saya bsa imembuang kata “merasa”. Lalu, apa yang menjadi ukuran objektif itu? Siapa yang membuat ukuran objektif itu?

    “Lafazh ini secara mutlak, yakni setiap orang yang berteladan kepada sahabat Radhiyallahu ‘anhum.”

    Ya, saya juga berteladan kepada sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Mengapa saya diragukan untuk disebut salafi? Walaupun saya tidak ikut haraqah manapun.

    Terakhir, @syarif, Anda sudah salafi?

3 komentar:

ghuroba mengatakan...

undangan kajian bagi antum yang di kota jogja..dari ma'had Ki Bagus hadikusumo pimpinan cabang pemuda Muhammadiyah umbulharjo Yogyakarta.

Kajian Fiqh Munakahat dan HPT ustad oleh Ustd Suban Khadafi L.c (alumni Universitas Islam Madina K.S.A). Tempat masjid Nurhasanah Tegalcatak jalan Babaran Umbulharjo Yogya.. Insaya allah Antum Fidien bisa lihat aktivis Pemuda muhammadiyah yang bermanhaj salafi dan tetap berorganisasi Muhammadiyah.karean jika kita lihat HPT bisa kita lihat Tarjih berusaha mencari yang lebih rojih... itu artinya Muhammadiyah beraliran Ahlusunnah wal jamaah.. Insaya allah.

SANDIE KAROLL mengatakan...

Salaf telah terma'ruf dari jaman Rasulullah,. dalam hadits dari fatimah bahawa rasul bersabda : aku adalah sebaik2 salaf (pendahulu) bagimu,. dan hadits lain yg berbunyi : 'sebaik2 umat adalah generasiku, lalu stelahnya, lalu setelahnya,, mereka adalah qurun yg awal dan kita menisbatkan salaf kpda mereka yg sudah Alloh ridhoi dan Alloh abadikan dalam Al-quran,, Radhialloh'anhum, wa radhuu'anh, wallahu'alam

Basrun Bahmid mengatakan...

Nabi Muhammad SAW tdk pernah menyebut dirinya salaf, IM, tablig, ahli sunnah dll. Hanya satu muslim, seseorang yg menyebut dan meyakini 2 kalimat syahadat adalah saudara kita, terlepas dr segala kekurangannya, itulah tugas kita untuk meluruskan. Nabi sering berdoa ummati ummati ummati...lalu mengapakah kita hanya memikirkan salaf/IM kita?